Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2013

“SEGALANYA BARU” PENDIDIKAN UNTUK TAHUN BARU

0 komentar
"Saya mengibaratkan diri saya sebagai gelas kosong. Di saat gelas itu penuh, maka saya kosongkan lagi dengan isi yang baru. Dengan begitu, saya bisa terus belajar".


Tahun baru selalu bergulir terus setiap dan sepanjang waktu, tanpa disadari kita banyak tidak belajar dari macam kejadian-kejadian yang telah diperlihatkan tuhan sepanjang tahun 2012 yang telah lewat. Hal apa ayang kita tidak sadari ? Adakah orang banyak belajar bahwa semua kejadian itu untuk kita pelajari agar kita menjadi lebih baik,lebih mengerti dan lebih bijak dalam menghadapi kehidupan. banyak orang menilai itu tidak berhubungan dengan saya, itu tidak benar karena semua hal di dunia ini pasti berhubungan dengan kehidupan manusia dengan pribadi kita. Orang-orang bijaksana selalu pandai menilai dirinya sendiri bukan pandai menilai orang lain. Belajar kejadian di alam berarti belajar tentang kekuasaan tuhan.

Hidup manusia di dunia ini tidak selalu penuh dengan kebahagiaan, kesuksesan, keindahan, akan tetapi ada kalanya kehidupan manusia seperti roda yang berputar , mengalami penderitaan, kesedihan, kegagalan, dan lainnya. Pada intinya tidak selalu ada sukacita dalam hidup dan ada kalanya masalah datang dalam hidup manusia.

Transformasi hidup adalah perubahan, baik yang bersifat radikal (seketika) maupun progresif (bertahap) , yang diperlukan untuk memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Kata “transformasi” berasal dari dua kata dasar yaitu “trans” dan “form”. Trans berarti dari sisi satu kesisi lainnya (across) atau melampaui (beyond). Form disini berarti bentuk. Transformasi berarti perubahan bentuk yang lebih dari atau melampaui perubahan bungkus luar saja. Jadi, pada dasarnya transformasi berarti perubahan bentuk.

Ada sebagian orang berpandangan bahwa sesuatu yang disebut sebagai tradisi itu harus dipertahankan untuk tetap sama dan bila perlu jangan berubah. Oleh karena itu, apabila ada sebuah tradisi yang telah berubah dan tidak lagi sama dengan yang dulu, kadangkala sudah dianggap sebagai bukan tradisi lagi. Hal semacam ini banyak kita dengar terutama ketika kita duduk berdiskusi dengan sekolompok orang tua-tua di desa-desa yang kecewa dengan fakta perkembangan baru dalam masyarakat yang dinilai tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai positif dalam tradisi yang dulu pernah mereka anut dan jalani. Namun dalam kenyataannya kecenderungan untuk mempertahankan sebuah tradisi agar tetap sama sejak dulu hingga sekarang, adalah suatu harapan yang mustahil. Tradisi adalah sesuatu yang selalu bertumbuh, berkembang dan selalu menjadi baru, seiring dengan perubahan jaman dan perubahan dalam masyarakat. Kira-kira inilah kesimpulan secara sosiologis apabila kita memperhatikan realitas yang ada di sekitar kita.

Tetapi, apabila kita dengan mata yang terang dan cermat memperhatikan dan menelusuri sejumlah fakta dalam masyarakat kita, saya merasa harapan para orang tua-tua di desa-desa tadi ada benarnya juga. Contoh kasus, coba kita perhatikan cara hidup kita di tahun yang baru ini, mulai dari tanggal 1 Januari s/d hari ini. Pertanyaan saya adalah: adakah sesuatu yang baru, yang sungguh-sungguh baru, sesuai dengan nama tahun baru? Perhatikan juga cara masyarakat kita dalam merayakan dan menyambut tahun baru; dari dulu sampai sekarang sama saja; ada pesta miras, ada perkelahian, ada kecelakaan bahkan sampai ada yang meninggal dunia. Perhatikan lagi cara kita menyapa orang lain dan cara kita memperlakukan orang lain, baik di dalam rumah maupun di tempat kerja kita.

Pada tahun 2013 ada banyak pemilihan umum kepala daerah dan terutama menjelang pemilihan umum nasional 2014. “Ini akan menjadi momentum mengumpulkan modal, terutama bagi politikus pemegang kekuasaan,” politikus akan melakukan penggelapan anggaran untuk pribadi atau kelompok partainya. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kekuasaan atau bahkan kalau bisa memperluas wilayahnya. Ia menanti-nanti masyarakat agar terus memantau Anggaran Pendapatan Belanja Negara maupun Anggaran Pendapat Belanja Daerah di tahun 2013-2014, karena rawan kebocoran. Sementara itu, menurut data Transparency International the Global Coalition Against Corruption, Negara Indonesia berada pada rangking V negara terkorup di dunia dan berhasil mendapat rangking I di Asia Pasifik. Bagaimana dengan kita di Papua, apakah kolusi, korupsi dan nepotisme sudah menjadi budaya? Dengan demikian, mari kita hapus semua bentuk kemunafikan itu.

Kita bisa membayangkan ternyata soal dan masalah pendidikan adalah sebuah pergumulan yang sudah sangat tua usianya dalam berusaha untuk menjadi sebuah wadah pendidikan yang berkualitas di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sebagai generasi baru yang sedang berkarya di dunia pendidikan, kepada kita terdapat panggilan mulia untuk menjadikan lembaga pendidikan yang kita layani sebagai yang sungguh-sungguh menjadi wadah pembentukkan karakter dan kualitas hidup masyarakat yang semakin maju dan beradab. Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman marabahaya kepada masyarakat). Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme.

Saya rasa itulah pesan utama kepada kita semua yang notabene adalah orang-orang yang akan dan terus berkarya di sebuah lembaga pendidikan dan dimanapun lembaganya di tahun yang baru (2013) ini. Sehingga betul-betul ada yang baru yang kita buat dan karyakan, supaya tidak-lah tepat apa yang saya sebut sebagai judul tulisan ini. Yang baru adalah segala-nya, baik semangat kita, motivasi kita, metode kita, disiplin kita, program kita, kinerja kita, pola dan strategi kita, serta gaya dan inovasi kita. Asalkan jangan ada suami atau isteri baru bagi yang sudah punya. Dan apabila semua ini bisa kita lakukan secara serius dan tekun di tahun yang baru ini, niscaya akan ada juga perubahan gaji dan tunjangan yang baru, sehingga bukan cuma 2013-nya saja.

Mari kita lihat (intropeksi) hidup kita selama tahun 2012 ini dan menerapkan rumus kehidupan yang saya buat ini untuk terus kita aplikasikan bagi kehidupan kita di tahun yang baru nanti. Hanya dengan tekun, sekalipun masih ada rasa cemas, hidup kita akan bertumbuh dan menjadi kesaksian bagi orang lain. Pernahkah kita gagal atau membuat kesalahan? Kenyatan bahwa manusia pernah gagal adalah bukti bahwa orang belum selesai. Kegagalan dan kesalahan dapat menjadi jembatan bukan penghalang bagi kehidupan yang lebih baik. Salah satu ciri orang hebat adalah berani merubah diri jika dia tahu bahwa dia salah. Belajar terus menerus adalah jawaban agar kita selalu dalam kondisi lebih baik dari waktu-kewaktu.

Kebanyakan orang memang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas dan fokus, artinya mereka bingung dan buta di dunia ini sehingga tidak menghasilkan apapun dalam perjalanan hidupnya. Tetapkan tujuan yang jelas dan akan dicapai di tahun baru 2013 dan kerjakan rencana-rencana kita dan fakus kepada rencana tersebut. lebih baik salah dari pada tidak dan galau menetapkan suatu tujuan. 

Banyak orang meramalkan bahwa tahun 2012 adalah akhir dari dunia, namun ternyata tidak terbukti. Kiamat adalah Misteri Tuhan, tiada seorangpun yang tahu. Kiamat sebenarnya sedang terjadi pada diri kita dan sekitar kita. Korupsi, Pembunuhan, Narkoba, Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Merendahnya moral bangsa ini adalah kiamat untuk pelaku-pelakunya. Maka selaku manusia MAWAS lah selalu. 

 
Pertanyaan demi pertanyaan yang muncul ini semoga bisa menjadi bahan renungan kita agar kita bisa lebih memahami kondisi kita saat ini dan semoga kita bisa memetik sesuatu dan mengambil maknaknya. Saya tidak tahu apa yang sedang saudara rasakan (karena saya bukan Tuhan yang Maha Mengetahui, bukan pula dukun atau pun paranormal!?), karena saya pun sedang mencari tahu dan menggali kembali arah dan tujuan hidup saya.

Memasuki tahun baru 2013, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita, kita juga mungkin tidak tahu sampai berapa lama kita diberikan hidup, kita juga tidak tahu apa penderitaan , sakit, kesedihan yang akan kita alami di tahun baru ini akan tetapi kita harus lihat seburuk-buruknya masalah, sesakit-sakitnya kita akan tetap diberikan pelangi di balik hujan .Hanya TUHAN yang mempunyai kehebatan maka sangat logis jika seseorang ingin hebat dia harus lebih dekat kepada sesuatu yang punya kehebatan. Amin. Tuhan memberkati karya kita semua. 



 
Surabaya, 15 Januari 2013
Oleh

 
Yustinus G. Ukago

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya


Ko Baca Truzz...

Rabu, 21 November 2012

Rakyat Papua: Mengritisi kesempitan Berpikir Negara Indonesia (membongkar paradigma keliru)

0 komentar
Oleh: Yustinus G. Ukago
Kita hidup dalam dunia yang telah disempitkan. Hal-hal yang kaya dan rumit disempitkan menjadi hal-hal sederhana yang justru membunuh arti pentingnya. Gejala ini dapat dilihat di semua bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, politik, sampai dengan seni. Penyempitan dunia kehidupan ini perlu untuk kita refleksikan, lalu kita kurangi sisi merusaknya.

Politik 

Dunia politik disempitkan menjadi pengejaran kekuasaan. Aliansi antar partai politik dibangun bukan untuk meningkatkan kinerja politik untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, melainkan untuk bagi-bagi kue kekuasaan. Negosiasi dibangun bukan untuk menciptakan kebijakan yang efektif dan efisien untuk menunjang kinerja mesin politik, melainkan untuk membuat proyek-proyek baru yang penuh dengan lubang untuk dikorupsi.

Dunia politik juga disempitkan menjadi kesempatan untuk menumpuk uang. Orang berlomba-lomba menjadi anggota DPR dan DPRD bukan untuk melaksanakan pengabdian, melainkan untuk mencari celah, guna mengembangkan modal keuangan mereka. Ketika menjabat sebagai kepala daerah, orang berlomba-lomba untuk mendapatkan proyek dan tender, guna mendapatkan uang lebih banyak lagi, setidaknya untuk menutupi ongkos kampanye politik sebelumnya.

Padahal sejatinya, politik adalah soal pengabdian pada kepentingan rakyat untuk mewujudkan terciptanya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat, tanpa kecuali. Ketika ini disempitkan semata menjadi pengejaran kekuasaan dan kesempatan untuk menumpuk uang, masalah besar muncul. Politik adalah soal tata kelola masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip yang bisa dipertanggungjawabkan bersama. Ketika politik tidak berjalan, tata kelola masyarakat pun tidak berjalan, dan semua urusan akan berantakan.

Pendidikan

Dunia pendidikan pun mengalami penyempitan. Pendidikan disempitkan menjadi semata-mata latihan untuk berhasil dalam tes. Murid dibombardir dengan latihan tes terus menerus, terutama menjelang UNAS. Metode menghafal dan memuntahkan kembali menjadi yang utama, dan, sejalan dengan itu, membunuh kreativitas dan orisinalitas berpikir anak.

Pendidikan juga disempitkan menjadi semata-mata mengulang apa yang dikatakan oleh guru. Dalam arti ini, menurut saya, pendidikan telah berubah menjadi perbudakan pikiran. Pikiran yang kreatif dan orisinil dianggap pemberontak, maka harus didisplinkan dan dihukum. Pada akhirnya, anak-anak menjadi robot yang patuh, tanpa kemampuan kritis dan kreativitas berpikir.

Padahal sejatinya, pendidikan adalah pembebasan anak dari kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan juga adalah proses penyadaran anak atas situasi sekitarnya, dan mengajaknya untuk mengambil sikap yang tepat atas berbagai situasi itu. Dalam arti ini, pendidikan adalah pembentukan proses berpikir manusia untuk secara cerdas dan tepat menanggapi situasi kehidupannya. Pemahaman inilah yang terlupakan dari dunia pendidikan kita.

Bisnis dan Ekonomi

Bidang bisnis juga mengalami penyempitan yang sama. Bisnis semata-mata disempitkan menjadi proses untuk mengumpulkan keuntungan semata, jika perlu dengan cara-cara yang tidak baik. Padahal, bisnis adalah soal tata kelola untuk menciptakan produk-produk yang bermutu, maupun pelayanan-pelayanan yang baik kepada masyarakat. Di dalam bisnis, keuntungan adalah akibat logis dari mutu, dan bukan tujuan utama.

Ekonomi juga disempitkan menjadi pengamatan pada data statistik semata, yang seringkali berbeda jauh dengan kenyataan di lapangan. Sejatinya, ekonomi juga adalah soal tata kelola perdagangan dan transaksi barang, uang, dan jasa di dalam masyarakat, supaya bisa menciptakan kemakmuran bagi seluruh rakyat.

Dalam hal ini, data statistik adalah alat bantu analisis masalah dan pembuatan kebijakan. Yang seharusnya menjadi perhatian utama adalah kenyataan di lapangan, terkait dengan pemerataan kekayaan bagi seluruh rakyat. Ini semua tidak terjadi, ketika orang hanya terpaku pada data statistik yang seringkali dibuat dengan penyimpangan-penyimpangan metodologis, demi alasan efisiensi dan efektivitas.

Agama, Seni, dan Kepemimpinan

Agama di Indonesia pun juga mengalami penyempitan menjadi semata-mata kumpulan aturan, larangan, dan ritual semata. Agama kehilangan spiritualitasnya yang justru menjadi lambang kesucian dan hubungan manusia dengan yang transenden itu sendiri.

Kepemimpinan di berbagai bidang pun disempitkan menjadi semata-mata soal kerapihan administrasi. Kemampuan pemimpin untuk memotivasi dan memberikan inspirasi ke arah tujuan-tujuan yang baik telah hilang, dan digantikan dengan semata-mata dengan soal pemberian tanda tangan, dan kerapihan dokumen semata.

Seni pun disempitkan semata menjadi pemuas selera pasar dan konsumen. Seni sebagai ekspresi otentik dari penghayatan diri atas peristiwa-peristiwa kehidupan sudah nyaris tak terdengar. Di sisi lain, penelitian ilmiah yang sejatinya untuk mengungkap kebenaran dan menemukan pengetahuan di berbagai bidang kini disempitkan semata sebagai pemburuan hibah dari pemerintah, ataupun sekedar untuk penambah poin untuk peningkatan karir dosen.

Matinya Akal Sehat 

Ini semua adalah tanda-tanda dari apa yang disebut Dahlan Iskan sebagai pembunuhan akal sehat. Artinya, akal sehat kita tahu, bahwa ada yang salah. Namun, karena kita merasa tak berdaya untuk memperbaiki kesalahan, maka kita pun beradaptasi. Akal sehat kita melemah, dan kini telah menyesuaikan dengan penyimpangan-penyimpangan yang ada. Hannah Arendt menyebutnya sebagai banalitas kejahatan, yakni kejahatan yang tak lagi dilihat sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang “biasa-biasa saja”.

Dalam konteks ini, kita membutuhkan orang-orang yang mampu berpikir progresif, yakni orang-orang yang berani menggugat dan mempertanyakan segala sesuatu yang ada, menemukan kelemahan di dalamnya, dan berjuang untuk menambal kelemahan-kelemahan itu, atau mengubah seluruh tatanan yang ada, supaya lebih baik untuk semua orang. Sayang, di tengah dunia yang semakin global ini, kehadiran orang-orang progresif justru disalahpahami sebagai pemberontak, penyebar ajaran sesat, atau orang-orang yang “bikin susah”. Sayang memang….

                                                                        Taman Penuh Cinta  Pakuwon City, 21 November 2012

          Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya  Mandala  Surabaya
Ko Baca Truzz...

Selasa, 20 November 2012

Masa Depan Manusia Papua Dan Nilai-Nilai Hidup

0 komentar
Oleh: Yustinus G.Ukago
Siapa yang tahu soal masa depan? Bagaimana kita bersikap pada apa yang belum pasti di depan? Inilah pertanyaan yang menghantui dunia kita yang semakin banyak tantangan. Ditekan oleh tantangan jaman, kita seringkali berubah menjadi pengecut yang selalu gelagapan.

Itulah yang terjadi di Papua. Banyak orang khawatir akan masa depan hidupnya. Bisnis asuransi masa depan menjamur dan membuat banyak orang terjerat di dalam jaring-jaringnya. Baik sebagai individual warga negara, ataupun sebagai bangsa, kita takut akan masa depan, dan kehilangan pegangan dasar.

Nilai-nilai dasar yang membuat kita manusiawi lenyap tak terasa. Di hadapan tantangan ketidakpastian, kita membuang nilai-nilai hidup yang membuat kita berharga pada awalnya. Kita menjadi pengecut-pengecut yang takut pada gerak dunia. Pada akhirnya kita pun lenyap, karena lupa akan identitas asali kita.

Di dalam hidup mayoritas yang kita alami bukanlah peristiwa besar, melainkan peristiwa yang biasa-biasa saja. Kita menjalani rutinitas yang selalu sama. Rasa jemu pun datang tak diminta. Di dalam kejemuan semua yang kita anggap berharga seolah tak lagi bermakna.

Di sisi lain kita seringkali mengalami peristiwa-peristiwa luar biasa, entah mengalami krisis kegagalan, atau keberhasilan yang menyenangkan hati. Dunia seolah dihempas ke arah-arah ekstrem, tanpa bisa kita kuasai. Hati terus dipenuhi dengan sensasi. Hari- hari pun terasa berwarna-warni.

Ketika kita jemu, krisis, ataupun ceria di dalam keberhasilan, kita seringkali lupa tentang nilai-nilai dasar hidup yang sejati. Akibatnya kebingungan pun tercipta, dan merusak ketenangan diri. Tujuan hidup sejati yang terlupa, dan orang sibuk pada hal-hal yang tidak sejati. Pada akhirnya ia merasa hampa dan tak bahagia.

Supaya itu tak terjadi, ada dua hal yang tetap harus dijaga, yakni kesetiaan pada nilai-nilai dasar hidup, dan kemampuan untuk bertahan menghadapi gejolak, ataupun kejemuan. Nilai-nilai hidup adalah yang membuat kita awalnya menjadi manusia, dan bukan binatang ataupun tumbuhan.

Adapun nilai-nilai itu adalah hormat pada martabat manusia, keteguhan hati di tengah badai ataupun kejemuan, keberanian menyatakan apa yang benar, dan keberanian untuk bertindak apa yang baik, lepas dari apapun yang mengancam. Tanpa nilai-nilai hidup itu, kita tidak bisa disebut sebagai manusia seutuhnya.

Manusia perlu untuk selalu menjadi tujuan, apapun yang terjadi. Ia tidak pernah boleh menjadi alat bagi tujuan apapun di luar dirinya. Manusia bukan barang ataupun alat yang bisa dimanfaatkan. Inilah nilai pertama yang selalu harus dipegang.

Di Papua  manusia seringkali dimanfaatkan. Manusia seringkali menjadi alat bagi tujuan-tujuan tertentu di luar dirinya, entah sebagai alat pencari uang, atau peraih kekuasaan. Seperti hewan ataupun tumbuhan, manusia diperas demi kepentingan manusia lain yang merasa lebih punya kekuatan. Ini tidak boleh dibiarkan.

Di sisi lain keteguhan hati juga amat diperlukan, supaya orang bisa mencapai tujuan hidupnya. Keteguhan hati tergambar di dalam kesetiaan pada prinsip dan profesi, lepas dari apapun yang ada di depan mata. Keteguhan hati adalah integritas manusia yang membuat ia terus utuh dan berharga di dalam hidupnya.

Di Papua kita seringkali tak punya keteguhan hati yang cukup perkasa. Yang kita punya adalah pertimbangan jangka pendek yang akan segera melepaskan keteguhan hati pada prinsip hidup, ketika kesempatan datang menarik mata. Kita adalah para pencari kesempatan di tengah kesempitan hidup, dan tak pernah beranjak menjadi bijaksana. Ini juga tidak bisa dibiarkan terus ada.

Dengan kesadaran yang mendalam akan martabat manusia, serta dibarengi keteguhan hati di dalam krisis ataupun kejemuan, orang akan dimungkinkan untuk selalu memilih apa yang baik, dan bertindak yang benar di dalam hidupnya. Dengan bekal ini orang tak perlu takut akan masa depan yang tak pasti, dan kesulitan yang selalu ada. Nilai-nilai ini akan menyelamatkan hidupnya, dan membuatnya tumbuh menjadi bijaksana.

Tanpa penghormatan pada martabat manusia dan keteguhan hati, orang akan terombang-ambing di dalam gerak jaman. Integritas dirinya akan lenyap, dan ia akan nilai-nilai sejati hidupnya. Pada akhirnya ia akan hancur dan tak berdaya. Oleh karena itu ia perlu berubah, dan mengingat kembali apa yang sungguh penting di dalam hidupnya, sebelum semuanya terlambat.

Inilah jalan untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Di dalam proses orang akan memperoleh banyak hal yang berharga. Kesulitan akan datang namun bahagia pun akan turut serta. Di akhir hidup orang akan bisa berkata pada dirinya, saya telah menjalani hidup dengan baik, dan saya bahagia. Saya rasa itulah tujuan hidup setiap manusia.


Pakuwon City, 21 November 2012


Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala surabaya






Ko Baca Truzz...

KESADARAN DALAM KESEIMBANGAN HIDUP: TITIPAN UNTUK PEMIMPIN DAN PENGUASA DI PAPUA

0 komentar
Setiap orang selalu teraspirasi pada kesempurnaan. Mereka menghargai karya yang sempurna, dan tergerak hatinya oleh kesempurnaan yang tampak di dalam keindahan, di manapun ia berada, mulai dari karya seni, atau sekedar tanaman yang berwarna-warni nan menggoda hati. Berbicara soal kehidupan, orang juga selalu mencari kesempurnaan. Dan berbicara tentang kesempurnaan, ada satu ide terselip di dalamnya, yakni keseimbangan.
Yang sempurna itu seimbang. Ia seimbang dalam kesederhanaannya, sekaligus kerumitannya. Ia sempurna dalam kelembutan, sekaligus kekuatannya. Kesempurnaan hidup manusia pun identik dengan keseimbangannya untuk mengatur berbagai ekstrem, tanpa pernah jatuh ke salah satunya. Kesempurnaan puas untuk ada dalam tegangan, dan justru merayakan tegangan ketidakpastian di antara berbagai pilihan hidup yang senantiasa menuntut kepastian.
Namun, keseimbangan hidup bukanlah keseimbangan matematis. Ia bukanlah suatu titik yang diam, seperti angka yang tak bernyawa, melainkan suatu gerak yang terus berubah, menari di dalam beragam ekstrem-ekstrem pilihan kehidupan. Keseimbangan di dalam hidup adalah keseimbangan yang terus berubah, mengikuti alur kehidupan yang juga senantiasa berubah. Ia mengalir gemulai di antara kepastian dan ketidakpastian, tanpa kehilangan sumbunya yang membuat ia teguh, sekaligus lentur.
Saya menyebutnya sebagai keseimbangan yang hidup, yang jelas berbeda dengan keseimbangan tak bernyawa yang dengan mudah ditemukan di dalam rumus matematika dalam bentuk ekuilibrium, ataupun hitung-hitungan ekonomi belaka. Keseimbangan yang hidup ini perlu untuk menyerap ke dalam sendi-sendi kehidupan kita sebagai manusia. Ia perlu untuk menjadi prinsip yang mengikat, sekaligus penggerak yang mengubah.

Pendidikan dan Politik 

Pendidikan adalah suatu ruang yang juga harus dipenuhi oleh keseimbangan yang hidup. Pendidikan harus menjadi proses yang sekaligus mencerahkan dan menyenangkan dalam waktu yang sama. Ia tidak boleh membunuh roh, apalagi menciptakan tekanan batin. Ia merupakan keseimbangan yang hidup antara aturan yang menekankan displin diri di satu sisi, sekaligus proses yang melegakan hati, mencerahkan jiwa, dan membahagiakan di sisi lain.
Politik, sebagai tata kelola manusia-manusia, pun juga harus diresapi oleh keseimbangan yang hidup. Ia merupakan tegangan sekaligus kombinasi dari aturan yang menjamin stabilitas hidup bersama di satu sisi, dan kebebasan yang mendorong kreativitas serta kebahagiaan hati di sisi lain. Kegagalan meresapi keseimbangan yang hidup semacam ini akan membuat politik menjadi neraka kehidupan, yang diisi oleh para petarung kekuasaan yang rakus, serta penjilat yang tak punya nurani.

Ekonomi dan Bisnis

Ekonomi sebagai transaksi antar manusia yang melibatkan jumlah besar pun juga harus bergerak dengan pola keseimbangan yang hidup. Bahkan, sejatinya, ekonomi adalah pola interaksi antar manusia dalam jumlah besar yang selalu terarah untuk mencari keseimbangan. Beberapa orang berpendapat, bahwa ekonomi haruslah dibiarkan bebas, supaya bisa mencari keseimbangannya sendiri, dan, dengan itu, memberikan kemakmuran untuk semua.
Namun, prinsip kebebasan mutlak di dalam ekonomi semacam ini tidak sesuai dengan prinsip keseimbangan yang hidup, karena jatuh pada salah satu ekstrem di dalam perdebatan, yakni ekstrem pasar bebas. Maka dari itu, dalam terang pemikiran tentang keseimbangan yang hidup, negara juga harus ikut mengatur ekonomi, namun dengan kepekaan pada pentingnya ruang bagi ekonomi untuk menari dan berkembang dengan geraknya sendiri. Ekonomi adalah titik tengah yang dinamis antara tata kelola yang memelihara kestabilan dan keamanan di satu sisi, serta ruang kebebasan yang mendorong kreativitas yang mendobrak di sisi lain.
Bisnis pun juga perlu untuk memeluk keseimbangan yang hidup. Setiap pebisnis besar akan sadar, bahwa bisnis adalah semacam kombinasi ganjil antara keberuntungan di satu sisi, dan usaha keras di sisi lain. Bisnis adalah keseimbangan yang hidup antara dorongan mengumpulkan keuntungan finansial di satu sisi, dan upaya untuk menghasilkan keindahan di sisi lain. Bisnis juga adalah keseimbangan antara niat mencari untung di satu sisi, dan upaya membantu orang lain di sisi lain.

Sains

Di dalam masyarakat manusia yang semakin rumit, pencarian kebenaran adalah sesuatu yang amat diperlukan. Kebenaran adalah dasar untuk pelbagai kebijakan publik, maupun untuk membuat keputusan pribadi. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan menempati peranan terhormat. Ia menjadi pegangan bagi banyak orang untuk membuat keputusan, karena sifatnya yang berusaha sedekat mungkin mendekati kebenaran yang ada di dalam kehidupan.
Oleh karena itu, ilmu pengetahuan pun juga harus diresapi oleh keseimbangan yang hidup. Ia adalah bentuk nyata dari keseimbangan antara pencarian kebenaran yang tak berpihak di satu sisi, dan kelembutan hati yang berpijak pada nilai-nilai luhur kehidupan di sisi lain. Ia adalah perpaduan yang terus berubah antara ketidakberpihakan yang menghasilkan kebenaran “obyektif” di satu sisi, dan kepekaan hidup atas nilai-nilai kebaikan di sisi lain.

Agama 

Tidak seperti yang diramalkan oleh Karl Marx lebih dari 200 tahun yang lalu, agama tetap hidup, dan bahkan berkembang, di dalam peradaban manusia. Di berbagai negara, agama kini memainkan peranan penting di dalam menata hidup warganya, maupun mengarahkan keputusan-keputusan yang bersifat publik. Menimbang situasi semacam itu, maka agama pun perlu untuk menghayati keseimbangan yang hidup.
Agama perlu untuk berada di antara kemampuan memberikan panduan hidup praktis sehari-hari di satu sisi, dan kemampuan untuk memberikan makna hidup yang mendalam bagi para penganutnya. Agama perlu untuk terus menampung kekaguman manusia akan segala keindahan alam semesta yang membuatnya tertegun dan mengarahkan diri ke penciptanya di satu sisi, dan ritual religius yang menyejukan hati di sisi lain.

Seni

Hidup tanpa seni itu kering dan membosankan. Tidak hanya itu, hidup itu sendiri pun adalah seni. Namun, secara spesifik, seni adalah kemampuan manusia untuk mengekspresikan pikiran maupun perasaan di dalam dirinya melalui berbagai alat, seperti alat musik, lukisan, dan berbagai jenis media lainnya. Jadi, seni adalah ekspresi hidup dari diri terdalam manusia. Dalam konteks ini, seni pun perlu untuk menjalankan keseimbangan yang hidup, sama seperti bidang-bidang lainnya.
Di satu sisi, seni perlu untuk sedetil mungkin menangkap dan menyampaikan pergulatan jiwa manusia. Di sisi lain, seni juga perlu menjadi alat untuk membawa pesan-pesan pencerahan ke publik. Di satu sisi, seni bisa secara abstrak dan bebas mengungkapkan dirinya. Dan, di sisi lain, seni bisa secara konkret dan menyenangkan menyampaikan pesan kepada publik luas. Inilah keseimbangan hidup yang, pada hemat saya, perlu untuk dihayati oleh dunia seni pada umumnya, dan para seniman pada khususnya.

Filsafat

Sebagai displin pemikiran yang cukup tua, filsafat pun perlu untuk memeluk konsep keseimbangan yang hidup sebagai bagian dari dirinya. Ia perlu menari antara kekuatan abstraksi yang jernih di satu sisi, dan kemampuan untuk membaca realitas serta mendorong tindakan yang mengubah di sisi lain. Kegagalan menghayati tegangan antara dua kutub ini akan membuat filsafat ketinggalan jaman, dan menjadi tak relevan.
Di dalam hidupnya, setiap orang mencari, atau setidaknya merindukan di dalam hatinya, kesempurnaan. Dalam arti ini, kesempurnaan adalah keseimbangan itu sendiri. Bukan keseimbangan yang statis, bagaikan titik matematis di dalam matematika, melainkan keseimbangan yang hidup, yang mengayun serta menari di antara berbagai ekstrem kehidupan yang menggoda untuk dipilih. Jika kesempurnaan adalah keseimbangan, dan orang bisa menari di dalam berbagai ekstrem pilihan hidup yang mengepungnya, mungkin inilah arti sesungguhnya dari kebijaksanaan. Mungkin…
                                    Oleh: Yustinus Gabriel Ukago

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Ko Baca Truzz...

Rabu, 07 November 2012

Menelanjangi Bentuk-bentuk Kemunafikan

0 komentar
Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman
Tak bisa disangkal lagi, kita hidup di dunia yang penuh dengan kemunafikan. Bagaikan udara, kemunafikan terasa di setiap nafas yang kita hirup. Kemunafikan juga tampak di setiap sudut yang dilihat oleh mata. Mungkin, konsep ini benar: kita munafik, maka kita ada. Mungkin?
Namun, seringkali, kemunafikan tidak disadari. Keberadaannya ditolak. Menyangkal bahwa kita adalah mahluk munafik sebenarnya adalah suatu kemunafikan tersendiri. Yang kita perlukan adalah menyadari semua kemunafikan yang kita punya, dan mulai “menelanjangi bentuk-bentuk kemunafikan” yang bercokol di dalam diri kita.
Kemunafikan Pendidikan
Kemunafikan bagaikan kanker yang menjalar ke seluruh tubuh bangsa kita. Di dalam pendidikan, kemunafikan menjadi paradigma yang ditolak, namun diterapkan secara sistematis. Guru mengajar tentang kejujuran, sementara ia sendiri menyebarkan contekan untuk Ujian Nasional. Pemerintah bicara soal sekolah gratis di berbagai media, sementara pungutan liar di sekolah-sekolah tetap berlangsung.
Para professor menerima tunjangan raksasa, sementara mereka tak memiliki karya berharga. Guru mendapat uang lebih, namun paradigma mengajar tetap sama, yakni memaksa untuk menghafal, dan memuntahkan kembali melalui ujian. Tujuan pendidikan yang luhur dipampang di muka umum, namun prakteknya justru menyiksa peserta didik, dan memperbodoh bangsa.
Ujian dibuat, namun tidak menguji apa yang sungguh penting. Kompetisi digalakkan, tetapi hanya berperan sebagai simbol tak berarti yang tak menandakan apapun. Gelar diberikan dan dipampang panjang-panjang, tetapi hanya simbol yang sia-sia belaka. Pendidikan karakter dikumandangkan dengan gencar, tetapi sebenarnya hanya merupakan proyek pemerintah untuk mengucurkan uang lebih, dan kesempatan untuk korupsi.
Kemunafikan Politik
Politik juga adalah bidang yang digerogoti oleh penyakit kemunafikan. Senyum di media disebarkan secara luas, sementara korupsi dan penipuan terus dilakukan. Janji-janji indah digemakan, sementara praktek nyata untuk perbaikan kehidupan bersama tak kunjung tiba. Baju necis dan bau harum menjadi ciri para politikus untuk menutupi kekotoran tindakan mereka yang telah membunuh banyak orang.
Pidato dibuat seindah mungkin, didukung dengan data-data yang telah dipalsukan, untuk menutupi kenyataan sosial yang menyakitkan. Retorika, yakni kemampuan mempermainkan kata dan menjungkirbalikkan kebenaran, menjadi senjata para politikus untuk menyembunyikan borok politik yang ada. Konvoi-konvoi di jalan raya seolah membuka jalan untuk orang penting, yang sebenarnya hanyalah parasit korup yang menyiksa rakyat.
Perjalanan dinas menjadi dalih untuk wisata pribadi dengan uang rakyat. Rapat dengan “uang rapat” menjadi dalih untuk mengeluarkan anggaran, guna mempergendut rekening pribadi. Pemilu dan pilkada, yang merupakan salah satu proses terpenting di dalam demokrasi, menjadi kesempatan untuk menjual diri ke rakyat, guna memperoleh kesempatan untuk korupsi di kemudian hari. Tak heran, politik kita kini semrawut.
Kemunafikan Agama
Agama, bidang kehidupan yang penuh dengan nilai luhur kehidupan, pun tak lolos dari cengkraman kemunafikan. Ajaran moral agama dipelintir untuk menindas kaum perempuan dan orang-orang yang berbeda pandangan. Ajaran moral agama digunakan untuk membenarkan ketidakadilan dan pembodohan masyarakat. Bahkan, ajaran moral agama seringkali digunakan untuk memuaskan hasrat seks liar yang tak dapat lagi ditahan.
Para pemuka agama berkhotbah tentang kejujuran, sementara mereka menipu banyak orang dengan ucapan manis, namun tindakan penuh kekejaman. Para pemuka agama berkhotbah tentang pentingnya cinta, namun bertindak menindas kaum perempuan dan kelompok lain yang ada di masyarakat. Para pemuka agama berkhotbah soal moral dan kebaikan, namun luntur prinsipnya di hadapan kuasa uang dan seks.
Orang beragama berkhotbah soal nilai-nilai kehidupan, namun bisa saling bunuh, hanya karena beda pandangan tentang satu ayat yang tertulis di dalam buku tua. Orang beragama berkhotbah soal amal dan sifat luhur memberi, namun amal hanya untuk orang-orang yang sealiran, dan tidak untuk orang-orang yang berbeda pandangan, apalagi berbeda agama. Orang beragama berdoa sering dan lama, namun malas bekerja, dan hidup dengan mentalitas korup.
Kemunafikan Bisnis
Ekonomi dan bisnis, sebagai bidang tempat orang bekerja dan mengekspresikan bakat serta kemampuannya, juga tak bebas dari kemunafikan. Senyum manis pelayanan diberikan untuk menutupi hasrat untuk menumpuk modal tanpa batas. Pembukuan keuangan perusahaan dijungkirbalikkan untuk menghindari pajak, dan menumpuk keuntungan untuk pemilik modal. Retorika tentang krisis ekonomi diberikan untuk menekan upah buruh, padahal keuntungan yang ada melulu menancap di kantong pribadi pemilik modal.
Rayuan maut dalam bentuk suap dilakukan untuk melancarkan birokrasi. Suap ditawarkan untuk mengeruk keuntungan yang lebih tinggi, walaupun nyatanya membuat orang menderita, dan menghancurkan keseimbangan alam. Barang dagangan dipelintir kualitasnya, sehingga menjadi lebih rendah, dan merugikan pengguna, serta memberi keuntungan besar dalam jangka pendek.
Proyek besar dijalankan untuk tujuan-tujuan yang tampak baik, namun sebenarnya merusak alam, dan merugikan orang-orang yang telah hidup sebelumnya, baik secara material maupun psikologis. Monopoli pasar dilakukan, sehingga pengguna tidak memiliki pilihan, selain membeli dari satu orang dengan harga mahal, namun mendapat mutu rendah. Slogan-slogan sumber daya manusia tentang efektivitas dan efisiensi digunakan untuk memerah buruh, supaya bisa semakin bekerja cepat, mutu tinggi, dengan upah serendah mungkin.
Akar Kemunafikan?
Darimana akar kemunafikan ini? Salah satu analisis yang paling masuk akal adalah kemunafikan yang lahir dari proses pendidikan di keluarga, sebelum sistem-sistem lainnya menyentuh diri manusia. Orang tua mengeluarkan ajaran yang berbeda, dengan apa yang sesungguhnya mereka lakukan. Jurang antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan ini ditiru oleh anak, dan setelah sekian lama akhirnya menjadi bagian dari karakter dirinya.
Ayah berbicara tentang kesetian, sementara alat kelaminnya menjangkau banyak perempuan. Ibu berbicara soal kejujuran, sementara setipa bulannya, ia mencuri uang rumah tangga untuk kepentingan yang tak jelas. Orang tua berbicara tentang kerajinan, sementara seringkali, mereka sendiri malas bekerja. Orang tua berkhotbah tentang pentingnya menaati aturan, sementara mereka sendiri sering melanggar aturan dan hukum, serta merugikan orang lain.
Akar dari kemunafikan adalah jurang yang terlalu besar antara kata dan perbuatan, antara ajaran dan tindakan di lapangan, serta antara apa yang “secara teoritis” menjadi tujuan bersama dan apa yang “secara nyata” terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Jurang ini memang selalu ada. Namun, dalam dan luasnya menentukan besarnya kemunafikan yang terjadi. Bagaimana dengan anda? Seberapa jauh jarak yang anda punyai antara apa yang ada katakan tentang diri anda, dan apa yang sesungguhnya terjadi secara nyata?
Ko Baca Truzz...